Setiap kita mestinya tau apa yang kita inginkan dalam kehidupan ini. Bila setiap orang ditanya tentang keinginan dalam hidup, maka 99,9999 % jawabannya adalah hidup bahagia, sedangkan yang 0,00001 % adalah orang aneh alias tak waras. Dengan demikian maka kebahagiaan adalah tujuan hidup manusia.
Berbagai macam cara dilakukan manusia untuk memperoleh kebahagiaan. Namun tak semua manusia dapat merengkuh hidup bahagia, karena ternyata bahwa tidak setiap manusia mengetahui hakekat kebahagiaan, serta tidak tahu bagaimana cara mencapai kebahagiaan.
Sebagian besar orang menyangka bahwa kebahagiaan terdapat pada harta yang berlimpah, sebab dengan uang mereka mengira bisa membeli apa saja yang mereka butuhkan. Sehingga mereka mengejar kebahagiaan dengan bekerja keras untuk menghimpun dan menimbun harta.
Sebagian lainnya menyangka bahwa kebahagiaan ada pada tahta (jabatan), menurutnya dengan kekuasaan mereka dapat menguasai dan mengeksploitasi banyak orang. Dan dengan kekuasaan seseorang menjadi dihormati dan disegani. Sehingga beragam cara dilakukan manusia untuk merebut kekuasaan.
Ada pula yang menyangka bahwa kebahagiaan ada pada pasangan hidup. menurutnya istri cantik membuat dunia terasa indah meski tidur hanya beralaskan tikar, meski nasi sepiring dimakan untuk berdua.
Bila ditanyakan kepada setiap orang tentang kebahagiaan, maka akan diperoleh jawaban yang beragam. Kebanyakan orang menyamakan bahagia dengan kegembiraan atau kesenangan.
Secara umum kegembiraan terkait dengan kenikmatan yang bersifat kondisional / sementara, seperti rasa senang bila mendapatkan sesuatu. Sedangkan kebahagiaan terkait dengan kenikmatan yang mendalam dan panjang, seperti ketenangan hidup dalam berumah tangga.
Apa sesungguhnya kebahagiaan itu, dan bagaimana cara memperolehnya?. Apakah dengan harta yang berlimpah, atau jabatan yang tinggi, atau pasangan hidup yang OK ?
Kalau kebahagiaan dapat diperoleh dengan harta yang melimpah atau dengan jabatan yang tinggi, mengapa begitu banyak orang yang mengalami strees berat dan kehilangan jati diri, padahal hartanya berlimpah dan jabatannyapun tinggi.
Dan, kalau kebahagiaan dapat diperoleh dengan pasangan hidup yang OK, mengapa begitu banyak pasangan selebriti yang rumah tangganya cerai berai.
Apabila kita telusuri, maka kita akan menjumpai banyak persepsi dan definisi tentang kebahagiaan.
Prof. William James (dosen filsafat Univ. Havard), berpendapat bahwa : Kebahagiaan tidak selalu berada pada orang yang hidupnya penuh dengan kemudahan tanpa masalah, tetapi justru kebahagiaan seringkali dirasakan oleh orang yang selalu berhasil dalam mengatasi berbagai persoalan-persoalan hidup. Jadi menurutnya, orang yang mempunyai selalu dapat mengatasi setiap persoalan yang dihadapinya itulah orang yang berbahagia. Sedangkan orang yang tidak pernah mempunyai persoalan hidup, yang perjalanan hidupnya mulus-mulus saja, dia akan merasakan sebuah kehidupan yang tidak hidup, kehidupan yang datar, hambar, tidak dinamis dan menjemukan.
Bagaimana Islam mengartikan kebahagiaan?.
Dari banyak pengalaman, terbukti bahwa kebahagiaan tidak selalu berupa melimpahnya harta dan kemudahan dalam hidup. Kebahagiaan bisa muncul dari suatu kondisi yang sangat memprihatinkan, bahkan kondisi yang pahit sekalipun.
Rasulullah Saw memberikan pandangan tentang kebahagiaan pada tataran kehidupan sehari-hari (sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Dhailami), bahwa ada empat hal yang dapat membahagiakan bagi seorang muslim, yaitu pertama, istri yang salihah, kedua adalah anak-anak yang menyenangkan, ke-tiga adalah lingkungan (sahabat-sahabat) yang baik, serta ke-empat mempunyai penghidupan yang diusahakan di negeri sendiri. (HR Dailami).
Pada kesempatan lain Rasulullah SAW bersabda: Hendaklah kamu berbahagia bila mempunyai hati yang bersyukur, lidah yang berzikir, dan istri (suami) yang membantunya dalam urusan akhirat. (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah).
Sedangkan Al-Qur’an menerangkan bahwa kebahagiaan atau hati yang tenteram disebabkan oleh dzikir (ingat Allah) : “Orang-orang yang beriman, hati mereka manjadi tenteram karena berdzikir. Ingatlah, hanya dengan berdzikir (mengingat Allah) hati menjadi tenteram (bahagia)” (Ar-Rad ayat 28).
Dengan merujuk pada al-Qur'an dan hadist, disimpulkan bahwa kebahagiaan sesungguh nya adalah merupakan urusan hati/qalbu. Kunci kebahagiaan adalah hati. Bahagia atau sedih ditentukan oleh hati. Karena hati adalah sebagai pusat kesadaran manusia, yang mencerminkan perasaan dan pikiran manusia.
DR. Dale Carnegie mengatakan : “Hidup kita dibentuk oleh pikiran kita. Orang tidak terlalu terluka oleh apa yang terjadi, tetapi oleh pendapatnya (pikirannya) akan apa yang terjadi”. Sedangkang Prof. William James mengatakan: “Engkau bukanlah yang engkau kira, tetapi apa yang engkau pikirkan. Kalau engkau memikirkan kebahagiaan, engkau akan bahagia. Kalau engkau berpikiran sedih, engkau menjadi sedih. Dan kalau engkau berpikiran takut, engkau akan menjadi takut”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar